Kuliah, Perlukah Kemandirian Belajar?


Pasti kita sering menjumpai teman atau kerabat kita yang merasa dirinya salah masuk jurusan atau program studi. Mereka bercerita bahwa sebelum mereka menjadi mahasiswa, mereka tidak banyak tahu tentang jurusan-jurusan yang ada di perguruan tinggi walaupun sebenarnya nama jurusan itu sudah sering mereka dengar. Selama ini mereka paling banyak mendapatkan informasi mengenai suatu jurusan apabila di keluarga mereka pernah atau sedang kuliah di jurusan tersebut.   Keluarga kita juga kadang tidak mendukung minat kita apabila minat kita tertuju pada sebuah jurusan yang tidak "menjual" di pasar pekerjaan. Mungkin hal ini karena mereka kurang mengetahui apa dan potensi apa yang dapat diberikan oleh suatu jurusan yang di cap tidak menjual.   Sistem pengajaran waktu sekolah memang beda dengan sistem perkuliahan di perguruan tingi yang memakai sistem SKS (sistem kredit semester). Sistem kredit semester adalah sistem di mana mahasiswa harus mengumpulkan jumlah SKS tertentu untuk untuk mencapai persyaratan kelulusan sebagai sarjana. Jumlah SKS yang harus ditempuh mahasiswa antara 144 SKS sampai 160 SKS tergantung masing-masing kurikulum jurusan yang diambil. Satu SKS terdiri dari tiga bagian yaitu untuk tugas, belajar mengajar tatap muka dan belajar mandiri. Itulah sebabnya bila mengambil terlalu banyak SKS maka otomatis jadwal akan semakin berat dan padat. Namun tidak perlu takut karena asalkan bisa mengatur jadwal dan waktu yang miliki maka bisa saja mengambil jumlah SKS maksimum.   Selain SKS, indeks prestasi (IP) merupakan hal yang sangat penting bagi mahasiswa. Mengapa? Karena walaupun IP bukan satu-satunya barometer untuk keberhasilan mahasiswa namun IP merupakan pengukuran keberhasilan dalam hal akademis. Indeks Prestasi adalah mekanisme penilaian terhadap prestasi kamu berdasarkan penilaian untuk setiap mata kuliah. Penilaiannya ada yang A (poinnya 4), B (poinnya 3), C (poinnya 2) D (poinnya 1) dan E (poinnya 0). Cara menghitung IP adalah hasil kali besarnya SKS mata kuliah yang diambil dengan bobot untuk masing-masing mata kuliah kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan SKS yang diambil.   Kita tidak perlu merasa kaget apabila mendengar pengakuan seorang mahasiswa yang baru saja kuliah pada sebuah perguruan tinggi negeri atau swasta tetapi masih merasa ragu-ragu untuk menuntut ilmu. Cukup banyak contoh-contoh seperti itu di seputar kita.   Agak memprihatinkan, remaja-remaja sekarang kurang menenggang perasaan atas kesulitan orangtua. Mereka lebih memperhatikan kebutuhan dan kesenangan diri. Sebagai contoh, ada seorang mahasiswa baru menuntut ilmu pada jurusan tertentu di sebuah perguruan tinggi swasta. Walaupun orang tuanya telah mengeluarkan dana yang besar sejak dari mengikuti kegiatan bimbingan belajar sampai dengan membayar SPP semester pertama tetapi ia belum bisa merasakan kesulitan orangtua.   Kemandirian dalam belajar agaknya belum dimiliki oleh banyak mahasiswa. Ungkapan yang mengatakan bahwa pelajar atau mahasiswa sekarang banyak yang bersifat pasif seperti ‘paku’, ia baru bergerak kalau dipukul dengan martil. Ironisnya, mahasiswa sekarang kalau tidak diperintahkan untuk membaca buku-buku maka tidak dibaca buku-buku yang seharusnya setiap kali menjelang perkuliahan sudah dikuasainya.   Untuk masa-masa sekarang agaknya kemandirian dalam belajar perlu untuk ditingkatkan. Ada banyak pihak perlu untuk melakukan introspeksi diri dan langsung bertindak. Bukan hanya melakukan introspeksi dan kemudian berteori. Sebab teori tanpa tindakan atau aplikasi tentu akan tetap sia-sia hasilnya.   Perilaku atau sikap mandiri dari seseorang tidak terbentuk secara mendadak, akan tetapi melalui proses sejak masa kanak-kanak. Dalam perilaku mandiri antara individu satu dengan individu yang lain berbeda. Hal ini karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Dalam pendidikan, cara belajar secara aktif perlu ditempuh untuk mendidik anak berpikir secara mandiri. Kualitas kemandirian adalah ciri yang paling diperlukan manusia di masa depan. Berdasarkan pendapat tersebut, maka belajar mandiri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh individu untuk melakukan kegiatan belajar secara mandiri atas dasar motivasinya sendiri untuk menguasai dan menyiapkan suatu materi dan atau kompetensi tertentu sehingga dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.   Sehingga dalam kemandirian belajar, mahasiswa harus aktif dan tidak bergantung pada pengajar. Bila dilihat dari aspek kognitif maka dengan belajar mandiri akan diperoleh pemahaman konsep pengetahuan yang tahan lama sehingga akan berpengaruh pada pencapaian akademik mahaisiswa yang baik. Hal tersebut dikarenakan mahasiswa terbiasa menyelesaikan tugas yang diberikan dengan usahanya sendiri dengan menggali sumber-sumber belajar yang ada   Dengan belajar mandiri mahasiswa dituntut aktif baik sebelum proses belajar mengajar berlangsung, maupun setelah proses belajar. Mahasiswa yang belajar mandiri akan mempersiapkan materi yang diajarkan. Setelah proses belajar mengajar berakhir, mahasiswa akan mengulang kembali materi yang telah disampaikan sebelumnya, baik dengan membaca ataupun berdiskusi dengan teman. Dengan demikian mahasiswa yang menerapkan belajar mandiri akan mempunyai prestasi lebih baik bila dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak menerapkan prinsip belajar mandiri.   Pada dasarnya kehidupan sebagai mahasiwa sangatlah menyenangkan bagi yang benar-benar menganggap bahwa kuliah itu merupakan pilihan hidup yang harus dijalani. Lalui saja, enjoy dan buang segala rasa takut, cemas, bingung, dan sejenisnya ketika kamu mulai melangkah memasuki dunia kehidupan akademis yang baru. Sambut harimu dengan senyuman dan semangat baru “AKU BANGGA MENJADI MAHASISWA”.   Ali Sofwan, M.Si Kaprodi Akuntansi FEB UNISNU Jepara ijs_ali@yahoo.co.id  

Admin Unisnu

Komentar