Kyai Said Sampaikan Inklusivisme dalam Islam di UNISNU Jepara

Kyai Said Sampaikan Inklusivisme dalam Islam di UNISNU Jepara

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mendatangi Kota Ukir Jepara pada Kamis (5/1/2017) kemarin. Kedatangan Said Aqil untuk mengisi kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu). Said Aqil mengajak ratusan mahasiswa yang hadir memahami Islam inklusif. Menurutnya, untuk memahamkan Islam sebagai agama yang toleran dan melindungi perbedaan, harus melihat dari sejarah kehidupan nabi Muhammad di Madinah. Khususnya mengenai akhlak kaum Anshar dan Muhajirin. ”Orang-orang Anshar terbuka dadanya menerima orang muhajirin dan memberikan pelayanan,” ujar Said Aqil. Tak berhenti di situ, lanjut Siad Aqil, ketika orang Muhajirin mendapatkan sesuatu, orang Anshor tidak iri. Meski saat itu, status Muhajirin adalah pendatang.  Mereka hidup akur dan solid di bawah pimpinan Rosulullah. ”Semua pejabat mereka pendatang (orang Muhajirin-red). Tapi pribumi (orang Anshar- Red) merasa tidak apa-apa. Kau Anshar selalu mengalah pada pendatang. Biar, kedudukan Muhajirin yang peganglah.  Kami di belakang pendukung,” ujar Said Aqil dengan nada seolah menjadi orang Muhajirin. Tak hanya hanya itu, Said Aqil melanjutkan, tiga suku Yahudi, yang lebih dahulu tinggal di Madinah dibandingkan suku Hasraj dan Aus, mendatangi Rasulullah.  Kaum muslim Muhajirin, Anshar dan non muslim hidup berdampingan. Tidak ada permusuhan kecuali dengan kedholiman. ”Nabi membangun konstitusi persamaan dan peradilan. Bukan negara Islam, bukan Arab. Yang benar dilindungi, yang salah dihukum,” tegasnya. Penjelasan tetang sejarah masa nabi ini untuk menyadarkan tentang perbedaan. Khususnya di Indonesia. Di mana, tak hanya dihuni umat Islam. Said Aqil berharap, hal ini jadi contoh aparat dan masyarakat. ” Mudah-mudahan Polisi,  Satpol PP, dan semua orang bisa komitmen dengan ini. Muslim atau nonmuslim kalau hidup di Jepara harus aman,” tegasnya Selain bicara Islam inklusif, kuliah yang disampaikan Said Aqil juga penuh sindiran. Salah satunya, Said Aqil menyindir mahasiswa yang suka sok dalam bicara karena ingin dihormati. Sindiran ini disampaikan Said Aqil sewaktu bicara soal asal-usul kitab Ushul fiqih karangan iman Syafi’i yaitu Al-risalah. Itulah (Arrisalah, Red) yurisprudensi yang dikirim Imam Syafi’i ke gubernur,” katanya. ”Kalau mahasiswa sekarang sukanya mentereng kalau bicara. Tirulah kiai, tidak usah mentereng tapi sudah dihormati,” ujar Said Aqil sambil menunjuk barisan kiai di kursi depan. Saiq Aqil juga menyindir mahasiswa yang lebih memilih buka youtube daripada belajar memahmi Alquran Kuliah umum dengan tema Inklusifisme Islam Nusantara; Upaya Preventif Terhadap Politisasi Agama itu berlangsung di Aula Gedung Haji MWC NU Tahunan Komplek Kampus UNISNU dihadiri oleh 1200 an peserta baik dari civitas akademika UNISNU, Forkopinda dan jajaran pengurus PCNU Kab Jepara termasuk pengurus Majelis Wakil Cabang (tingkat kecamatan) NU Jepara.  

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mendatangi Kota Ukir Jepara pada Kamis (5/1/2017) kemarin. Kedatangan Said Aqil untuk mengisi kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu). Said Aqil mengajak ratusan mahasiswa yang hadir memahami Islam inklusif.
Menurutnya, untuk memahamkan Islam sebagai agama yang toleran dan melindungi perbedaan, harus melihat dari sejarah kehidupan nabi Muhammad di Madinah. Khususnya mengenai akhlak kaum Anshar dan Muhajirin. ”Orang-orang Anshar terbuka dadanya menerima orang muhajirin dan memberikan pelayanan,” ujar Said Aqil.
Tak berhenti di situ, lanjut Siad Aqil, ketika orang Muhajirin mendapatkan sesuatu, orang Anshor tidak iri. Meski saat itu, status Muhajirin adalah pendatang.  Mereka hidup akur dan solid di bawah pimpinan Rosulullah.
”Semua pejabat mereka pendatang (orang Muhajirin-red). Tapi pribumi (orang Anshar- Red) merasa tidak apa-apa. Kau Anshar selalu mengalah pada pendatang. Biar, kedudukan Muhajirin yang peganglah.  Kami di belakang pendukung,” ujar Said Aqil dengan nada seolah menjadi orang Muhajirin.
Tak hanya hanya itu, Said Aqil melanjutkan, tiga suku Yahudi, yang lebih dahulu tinggal di Madinah dibandingkan suku Hasraj dan Aus, mendatangi Rasulullah.  Kaum muslim Muhajirin, Anshar dan non muslim hidup berdampingan. Tidak ada permusuhan kecuali dengan kedholiman. ”Nabi membangun konstitusi persamaan dan peradilan. Bukan negara Islam, bukan Arab. Yang benar dilindungi, yang salah dihukum,” tegasnya.
Penjelasan tetang sejarah masa nabi ini untuk menyadarkan tentang perbedaan. Khususnya di Indonesia. Di mana, tak hanya dihuni umat Islam. Said Aqil berharap, hal ini jadi contoh aparat dan masyarakat. ” Mudah-mudahan Polisi,  Satpol PP, dan semua orang bisa komitmen dengan ini. Muslim atau nonmuslim kalau hidup di Jepara harus aman,” tegasnya
Selain bicara Islam inklusif, kuliah yang disampaikan Said Aqil juga penuh sindiran. Salah satunya, Said Aqil menyindir mahasiswa yang suka sok dalam bicara karena ingin dihormati. Sindiran ini disampaikan Said Aqil sewaktu bicara soal asal-usul kitab Ushul fiqih karangan iman Syafi’i yaitu Al-risalah. Itulah (Arrisalah, Red) yurisprudensi yang dikirim Imam Syafi’i ke gubernur,” katanya.
”Kalau mahasiswa sekarang sukanya mentereng kalau bicara. Tirulah kiai, tidak usah mentereng tapi sudah dihormati,” ujar Said Aqil sambil menunjuk barisan kiai di kursi depan. Saiq Aqil juga menyindir mahasiswa yang lebih memilih buka youtube daripada belajar memahmi Alquran
Kuliah umum dengan tema Inklusifisme Islam Nusantara; Upaya Preventif Terhadap Politisasi Agama itu berlangsung di Aula Gedung Haji MWC NU Tahunan Komplek Kampus UNISNU dihadiri oleh 1200 an peserta baik dari civitas akademika UNISNU, Forkopinda dan jajaran pengurus PCNU Kab Jepara termasuk pengurus Majelis Wakil Cabang (tingkat kecamatan) NU Jepara.

 


Admin Unisnu

Komentar