Rifqy Roosdhani; Perintis Bisnis Internet, Order Hingga Luar Negeri


Cerita sukses menjalankan bisnis di internet sudah banyak beredar di berbagai media. Meski demikian banyak yang belum menyadari peluang yang menjanjikan dari bisnis itu. SETIDAKNYA hal sama juga terjadi di daerah pinggiran seperti Kabupaten Jepara, sehingga dibutuhkan  kesabaran dalam menanamkan rasa percaya diri bahwa bisnis ini memiliki prospek yang bagus. Adalah dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Rifqy Roosdhani yang mencoba merintis dan membikin terobosan. Sejumlah  mahasiswa pun mulai dikumpulkan untuk mengambil peluang tersebut. Mahasiswa yang berminat menekuni bisnis internet itu dibimbing Rifqy Roosdhani, selaku pengampu mata kuliah tentang teknologi informasi. Saat awal merintis pada 2010, Rifqy menerangkan, hanya tujuh mahasiswa yang berminat. Kondisi tersebut menggambarkan bisnis di internet masih belum memiliki daya tarik. Meski minim peminat, Rifqy berupaya terus membimbing cara mempelajari tahapan-tahapan dalam menjalankan bisnis di internet. Dalam beberapa kali pertemuan kemudian disepakati dibentuk komunitas dengan nama I Bizznet. Maksud dari nama itu adalah ”saya berbisnis internet”. Banyak Diskusi Selama setahun, kenang Rifqy, pertemuan lebih banyak diskusi dan belajar teknik mengenai teknologi informasi. Itu adalah sebagai langkah mematangkan materi marketing di internet yang sudah dikenalkan di ruang kuliah. ”Selama setahun, kami belum dapat bentuk jelas untuk menjalankan komunitas ini,” ucapnya. Salah satu model bisnis internet yang  dilakukan adalah membuat blog. Namun, cara itu juga belum efektif. Hingga di tahun kedua baru menyadari, Jepara adalah tempat beragam produksi kerajian. Mulai yang popular mebel, ukir, hingga troso, monel, dan rotan. “Saya melihat peluang yang paling memungkinkan adalah berperan memasarkan produk-produk Jepara lewat internet,” kata bapak dua anak tersebut. Pelaku kerajinan di Jepara sendiri juga tak terlalu memperhatikan pemasaran di internet, sehingga peran pemasaran melalui media  itu diambil oleh orang luar Jepara. ”Kalau ada peluang mestinya bisa diambil orang Jepara sendiri. Para pelaku usaha angkatan saya sudah tak sempat untuk membimbing. Saya yang juga di akademik kemudian berusaha total untuk mendampingi terus hingga saat ini,” kata Rifqy. Setelah menemukan  bentuk bisnis di internet, Rifqy menjelaskan yang susah adalah menanamkan keyakinan bisa berhasil. Sebab, bidang tersebut tergolong baru dan belum ada contoh yang sukses. ”Hanya menekuni di internet tanpa produksi sendiri itu jarang,  sehingga harus diberi motivasi agar terus belajar untuk memasarkan produk-produk kerajinan Jepara di internet,” bebernya. Cerita Lucu Setelah berkutat dengan teori teknologi informasi serta mengaplikasikan search engine optimization agar website I Bizznet bisa mudah diakses oleh para pengguna internet, akhirnya pada Februari 2011, anggota I Bizznet Wawan Hermanto mendapat order kain tenun troso dari dalam negeri. ”Itu adalah momen bersejarah karena akhirnya ada yang order barang dari yang didisplay di website. Dari Wawan juga ada cerita lucu karena saat pertama ada telepon dia tidak berani mengangkat lantaran grogi. Kami akhirnya mendorong untuk berani. Pernah ada yang order mebel dari luar negeri, karena kemampuan bahasa Inggris terbatas dia tidak berani mengangkat dan menunggu saat di kampus untuk diberikan ke saya,” urai Rifqy. Suami dari Vini Sutarini itu menceritakan tentang adanya transaksi pihak pengisi Istana Negara. Pesanannya adalah patung Garuda Pancasila. ”Transaksi tersebut didapat oleh Abdul Rahman, mahasiswa kami dari Desa Petekeyan Kecamatan Tahunan. Para anggota komunitas ini kami dorong untuk membuat website sendiri tetapi juga kami persilakan memanfaatkan lama www.i-bizznet.com,” ucap Rifqy. Abdul Rahman menjelaskan, saat mendapat pesanan itu harus menghadapi sejumlah protes karena dimuat di Suara Merdeka beberapa waktu lalu. Mulai dari soal harga pembelian burung garuda hingga ada pihak-pihak di desanya yang tak disebutkan. ”Itu bagian dari perjalanan awal menekuni bisnis ini,” terangnya. Rifqy menjelaskan, setelah tahun pertama, transaksi yang didapat para anggota I Bizznet terus bertambah. Pada 2012, total nilai transaksi Rp 4 miliar. Pada 2013 naik menjadi Rp 6 miliar. ”Itu hanya nilai transaksi. Mahasiswa hanya menghubungkan tentunya hasilnya tidak sebesar itu. Namun, mereka sudah bisa mendapatkan hasil lumayan,” katanya. Dosen pendamping lain, Bening Kristiyassari mengaku bahagia dengan perkembangan mahasiswa di I Bizznet. Peminat mahasiswa masuk ke I Bizznet yang masuk di bawah UPT Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga bertambah. ”Saat ini anggotanya  30 orang. Kalau total bisa lebih karena ada yang sudah mundur. Sebab, butuh ketekunan,” terangnya. Salah satu yang menjadi pertimbangan seleksi adalah semangat untuk belajar dan pantang menyerah. ”Kalau soal kemampuan teknologi informasi atau teknis bisnis internet itu nomer dua yang terpenting semangat dan tekad belajar menekuni bisnis internet,” jelas Bening. Pada tahun keempat, Rifqy menggambarkan, I Bizznet memasuki babak baru. Sebab, sudah ada anggota komunitas yang lulus dari Unisnu. ”Beberapa yang sudah lulus ternyata tetap menekuni bidang ini sehingga harus ada babak baru. Anggota yang lulus tentu orientasinya profesional,” ucapnya. Saat ini, sudah dibentuk perusahaan PT Ibizznet Bumi Mandiri. Perusahaan itu diperlukan untuk menerima order formal. ”Ada juga anggota  yang membuat CV sendiri yakni Abdul Rahman. Kami persilakan setiap anggota membuat CV dan PT Ibizznet menjadi semacam holding company,” terangnya. Dengan babak baru, lanjut Rifqy, tugas para anggota akan semakin berat. Sebab, kalau ekspor harus memiliki Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk produk berbahan kayu. ”Itu juga menjadi pekerjaan kami untuk berkoordinasi dengan perajin yang biasanya menjadi patner para anggota. Anggota akan membantu untuk pengurusan sehingga bisa tetap melayani pesanan,” ucapnya. Asep Amin Musyafa’, pegiat I Bizznet menerangkan manfaat yang sangat banyak. ”Setelah aktif di komunitas ini bisa biaya kuliah sendiri dan membantu orang tua,” katanya. (Akhmad Efendi-80).   Sumber : Suara Merdeka

Admin Unisnu

Komentar